GORESAN SPMI MEMBAWA BERKAH

 

GORESAN SPMI MEMBAWA BERKAH

Dokumen Pribadi Mabar bersama Bude Sri, 2020

Sepulang bekerja, seperti biasa yang kudapatinya hanyalah suasana  yang sepi, karena anak semata wayangku pergi kerumah adikku mencari suasana yang ramai dan teman bercengkerama.  Sementara aku selalu terlarut dalam sunyi seorang diri dan ditemani music yang bersenandung klasik sebagai penghibur suasana tempat tinggalku.  Suamiku pekerja yang yah…bisa dibilang tidak ada target, karena setiap hari kerjanya lembur dan lembur mencari kepuasan sendiri dalam pola kerja yang dia jalani.  Dari dulu ,aku adalah tipikal orang yang to the point dan paling malas yang namanya mengulur dan menunda pekerjaan, dan senang bekerja yang simple dan tuntas.  Aku terbawa lamunan dan  sedang berpikir hal-hal apa yang harus kulakukan untuk menghibur dan mengisi aktifitasku, biar berarti.  Suasana yang membuatku terhanyut dalam lamunan, tiba-tiba, dikejutkan dengan suara handphone berbunyi……

Kuangkat handphoneku , ternyata dari bude Sri, salah satu dari keluarga dekatku, yang selama ini merupakan tempat untuk berbagi suka dan dukaku.

Keadaan ini sedikit menghiburku, dan membuyarkan lamunan yang tak berarti ini.

Ada apa bude…?, tanyaku

Ternyata dia bercerita bahwa saat ini masih sibuk dengan pekerjaan yang tak ada tuntas-tuntasnya, pusing, kata beliau. Dan bahkan selalu berkecamuk dengan masalah-masalah kedinansannya, tambah beliau bercerita dengan nada yang sedikit kebinggungan.

Yah…semua itu harus dihadapi dan dituntaskan secara matang dan penuh dengan pemikiran, jawabku ringan (gaya penaset ulung) hehehe…..  Mungkin karena aku bukan pelakunya, sehingga aku enjoy saja mendengar ceritanya, walau kadang aku juga malas untuk ikut mengikuti alur dari permasalahannya. Karena apa?... Memang untuk saat ini aku malas berpikir berat tentang dunia kerja. Aku pingin suasana kerja yang enjoy, dan tidak beresiko bagi diri, keluarga dan agamaku. Yang ada di benakku saat ini hanya mencari kerja yang nyaman dan sekaligus menata diri untuk focus dalam beribadah terhadap keluarga. Hidup itu pilihan, pikirku saat ini.

Kembali ku dengar cerita Bude Sri.

Namun… aku ngak bisa konsentrasi bulek (begitu dia memanggilku)

Apa yang membuat nggak bisa konsentrasi ? Tanyaku.

Dan aku ngak mau ambil pusing dan ingin melihat rasa penasaranku, akhirnya ku putuskan untuk bersilaturrahmi kerumah Bude Sri, Sekaligus mendengar cerita panjang lebar yang sedang beliau hadapi.

Bismillah…. Aku bersilaturahmi seorang diri.

Sesampainya dirumah Bude Sri, setelah bercerita sedikit tentang problem beliau yang sedang dihadapi, maka aku beranikan diri untuk membantu meringankan sedikit pekerjaan yang mungkin bisa membuat hatinya lega dan nyaman. Sehingga akupun ikut merasakan senang, jika melihat keluarga terhindar dari beban yang sedang dialaminya.

Dengan ringan ku menawarkan diri untuk membuatkan makalah yang akan beliau pakai presentasi untuk memaparkan  tentang sekolah yang beliau pimpin sebagai sekolah SPMI.

Dengan berbekal ilmu yang pernah aku dapatkan dari salah satu Narasumber LPMP ( Pak Anshori), yang saat itu pernah menyampaikan tentang SPMI, dan kebetulan sekolah tempat bekerjaku adalah merupakan sekolah imbas, maka aku sedikit paham langkah dan alur tentang Sekolah Penjamin Mutu Internal (SPMI) Sekolah.

Mulai, otakku mengingat hal-hal apa yang perlu dipersiapkan untuk melaksanakan kegiatan SPMI. Aku ingat, bahwa SPMI merupakan sistem penjaminan mutu yang berjalan di satuan pendidikan yang dijalankan seluruh komponen dalam satuan pendidikan. SPMI meliputi seluruh aspek penyelenggaraan pendidikan dengan memanfaatkan seluruh sumberdaya yang ada untuk mencapai Standar Nasional Pendidikan.

Dan berkolaborasi dengan Bude Sri, ku gali juga tentang SPMI menurut pemahaman yang beliau serap.

Dalam upaya meningkatkan mutu pendidikan, pemerintah, dalam hal ini Kemendikbud mendorong setiap satuan pendidikan untuk melaksanakan Sistem Penjaminan Mutu Pendidikan (SPMI) agar dapat mencapai Standar Nasional Pendidikan (SNP). Adapun yang menjadi payung hukumnya  adalah Permendikbud Nomor 28 tahun 2016 tentang Sistem Penjaminan Mutu Pendidikan (SPMP) Dasar dan Menengah, itu menurut informasi dari Bude Sri.

Dan haripun semakin sore, akhirnya kuputuskan untuk pulang dulu, dan ijin dengan suami, untuk membantu Bude Sri.

Selepas magrib, aku datang ditemani suamiku, akupun mulai melanjutkan pekerjaan yang sempat terputus karena suasana magrib.

Kembali ku gali informasi sedikit demi sedikit dari pelaku SPMI yaitu Bude Sri. Dari pemaparan yang beliau sampaikan, akhirnya aku berpikir dan berusaha menyimpulkan bahwa , agar implementasi SPMI dapat berjalan sukses, ada  8 (delapan) kunci yang perlu dilakukan. Pertama, Sosialisasi SPMI kepada Warga Sekolah. Hal ini bisa dilakukan oleh Lembaga Penjaminan Mutu Pendidikan (LPMP), Tim Penjaminan Mutu Pendidikan Daerah (TPMPD), fasilitator daerah (pengawas), kepala sekolah, atau Tim Penjaminan Mutu Pendidikan Sekolah (TPMPS).

Bentuk sosialisasi, bisa In House Training (IHT), Workshop, atau penyebaran informasi baik secara tertulis maupun melalui media audio visual melalui media sosial. Sekolah-sekolah yang ditunjuk sebagai sekolah model pun memiliki beberapa sekolah imbas agar "virus"  penjaminan mutu dapat semakin banyak menyebar, salah satu sekolah imbasnya adalah sekolah tempat kerjaku.

Adanya program pengimbasan disamping dapat mempercepat dan memperluas implementasi SPMI, juga dapat membantu peran pemerintah dalam mensosialisasikan SPMI. Ruang lingkup sosialisasi antara lain; latar belakang, tujuan, sasaran, hasil yang diharapkan, mekanisme, siklus dan tahapan SPMI, dan sebagainya disesuaikan dengan kebutuhan.Itu informasi dari Nara sumber pada saat itu.

Kedua, kepemimpinan kepala sekolah yang kuat. Maksud kuat disini bukan otoriter, tapi kuat dari sisi visi, kompetensi, dan komitmennya dalam mengimplementasikan SPMI. Kepala Sekolah merupakan pemimpin sekaligus lokomotif perubahan di satuan pendidikan yang dipimpinnya. Dalam konteks implementasi SPMI, kepala sekolah diharapkan menjadi penggerak utama, mendorong, memotivasi, bahkan memberikan contoh kepada semua pendidik dan tenaga kependidikan.

Dengan kewenangan yang dimilikinya, kepala sekolah dapat mengomandoi pembentukan TPMPS, menyusun tupoksi dari TPMPS, menyusun komitmen semua warga sekolah dalam melaksanakan SPMI, memberikan pembinaan, arahan, dan pengawasan agar SPMI dapat berjalan dengan baik. Walau demikian, kepala sekolah tentunya tidak one man show, tetapi memberdayakan semua sumber daya manusia yang ada di sekolah.

Dengan kata lain, kepemimpinan transformatif dan manajemen perubahan harus diwujudkan oleh kepala sekolah jika SPMI ingin sukses diimplementasikan.

Alhamdulillah, ternyata disini Bude Sri sudah melakukan itu semua, sehingga aku nggak begitu repot untuk membantu mengoreskan hal-hal yang harus dituliskan dalam profil sekolahnya.

Pada awalnya sih, kata Bude Sri sekolahnya tidak layak, tetapi semua itu terlihat dari bukti dan rekam jejaknya, bahwa sekolahnya memang sudah diakui oleh LPMP bahwa proses SPMI disekolahnya sudah terlaksana dengan baik.

Ketiga, perubahan paradigma warga sekolah. Pelaksanaan SPMI memerlukan perubahan paradigma semua warga sekolah, mulai dari kepala sekolah, guru, staf administrasi, hingga petugas lapangan. Jika selama ini sulit berubah, karena sudah berada di zona nyaman, maka mind set tersebut perlu diubah secara bertahap. Tantangan dunia pendidikan yang semakin kompleks dan dinamis perlu dijawab dengan peningkatan kualitas satuan pendidikan. Apalagi Indonesia saat ini dihadapkan pada misi besar menyiapkan generasi emas tahun 2045.

Keempat, komitmen dari TPMPS dan warga sekolah. Komitmen mudah diucapkan, tetapi kadang sulit untuk direalisasikan. Komitmen muncul dari kepedulian, tanggung jawab, dan rasa memiliki. Komitmen juga muncul dari rasa ikut dilibatkan dalam sebuah program atau kegiatan. 

Oleh karena itu, kepala sekolah harus melibatkan semua pendidik dan tenaga kependidikan di satuan pendidikan yang dipimpinnya. Komitmen juga dibangun dari keteladanan kepala sekolah, karena jika kepala sekolahnya kurang berkomitmen dalam mengimplementasikan SPMI, bagaimana dengan para guru dan stafnya? Hampir dipastikan komitmen mereka pun akan rendah.

Apa yang dilakukan Bude Sri, sudah sangat semangat dan berkomitmen dalam mewujudkan mimpi menjadi nyata untuk sekolah tercinta yang beliau pimpin agar lebih bermutu lagi kedepannya. Dan akupun selalu memberi support agar kepemimpinannya tidak lemah dan selalu memiliki dedikasi dan kontribusi yang baik, agar seluruh warga sekolahnya semangat.

Dalam perjalanannya, komitmen bisa naik dan bisa turun. Tergantung situasi dan kondisi. Di awal-awal implementasi SPMI, komitmennya biasanya tinggi. Semangat ber-SPMI menggema, SPMI menjadi euforia. 

Setelah komitmen terbentuk, maka yang diperlukan adalah "merawat" komitmen tersebut. Dan hal tersebut tidak mudah. Perlu keseriusan dari kepala sekolah dan TPMPS. Sikap saling mengingatkan diperlukan untuk "merawat" komitmen tersebut. Sekolah biasanya memiliki grup WA sebagai sarana penyebaran informasi dan komunikasi termasuk yang berkaitan dengan SPMI.

Cara "merawat" komitmen tidak harus selalu dilakukan dengan cara yang formil, satu arah, dan kaku, tetapi bisa dilakukan melaui cara yang santai tetapi serius seperti melalui acara ngopi bareng, makan bersama, piknik, atau acara capacity building bagi semua warga sekolah. Itu menurut argumenku yang sedikit konyol kali ya…. Hahaha…

Kelima, berjiwa pemelajar. Agar SPMI bisa dipahami dengan baik, maka semua warga sekolah harus mau menjadi pemelajar atau harus literat. Mereka harus mau membaca berbagai perangkat perundang-undangan yang berkaitan dengan 8 (delapan) Standar Nasional Pendidikan (SNP), petunjuk implementasi SPMI, siklus dan tahapan SPMI, format-format yang diperlukan dalam implementasi SPMI, dan sebagainya.

Sekolah dapat memfasilitasi atau menyediakan berbagai sumber informasi yang diperlukan, mencetaknya, atau menyebarkannya melalui e-mail atau grup WA. Selain itu, juga bisa melalui diskusi yang diselenggarakan oleh TPMPS, atau melakukan studi banding ke sekolah lain yang telah "mapan" dalam mengimplementasikan SPMI. Hal ini yang kadang, agak sedikit rumit buat mempengaruhi warga agar memiliki jiwa pemelajar. Yah… semua perlu proses, dan usaha, semoga sedikit-demi sedikit semua akan berubah. Semangat Bude Sri ……, gumamku.

Keenam, memahami setiap tahapan SPMI. Hal ini pada dasarnya dengan jiwa pemelajar dan tingkat literasi warga sekolah dalam mengimplementasikan SPMI, hanya lebih teknis. Siklus SPMI terdiri dari lima tahap, yaitu:

 (1) pemetaan mutu,
(2) penyusunan rencana pemenuhan mutu,
(3) pelaksanaan pemenuhan mutu,
(4) monitoring dan evaluasi, dan
(5) penyusunan strategi pemenuhan mutu baru.

Setiap tahapan tersebut perlu dipahami dengan baik oleh TPMPS.

Pemetaan mutu bisa dalam bentuk pengisian intrumen Evaluasi Diri Sekolah (EDS) atau pengisian instrumen Pemetaan Mutu Pendidikan (PMP). Rencana pemenuhan mutu mengacu kepada hasil pemetaan mutu dan menganut skala prioritas, lalu dimasukkan ke dalam program sekolah jangka pendek, jangka menengah, jangka panjang, Rencana Kerja Tahunan (RKT), Rencana Kerja Sekolah (RKS), dan Rencana Kerja dan Anggaran  Sekolah (RKAS).

Pelaksanaan pemenuhan mutu sebagai tindaklanjut rencana pemenuhan mutu. Monitoring dan evaluasi dilakukan untuk mengetahui kesesuaian proses keterlaksanaan program atau kegiatan yang dilakukan dengan rencana yang telah disusun untuk dijadikan sebagai bahan evaluasi. Dan strategi pemenuhan mutu baru dilakukan jika pemenuhuan mutu sebelumnya sudah tercapai.

Karena pelaksanaan siklus dan tahapan SPMI selain konsep juga berkaitan dengan hal yang bersifat teknis, maka TPMPS harus paham dan menguasainya, serta harus melek teknologi informasi (TI), karena pengisian instrumen tidak lepas dari penggunaan perangkat TI seperti laptop, mampu mengakses internet, dan sebagainya. Biasanya operator sekolah menjadi andalan atau ujung tombak kalau sudah berkaitan dengan TI, karena disamping pekerjaannya tidak lepas dari perangkat TI, ada juga guru yang gaptek dengan perangkat TI. Semua butuh usaha dan kemauan yang keras. Sesuatu yang sulit, jika diiringi dengan kemauan yang kuat semua bisa kita tepiskan.

Ketujuh, konsistensi dalam pelaksanaan SPMI. Konsistensi berkaitan dengan komitmen, dan hal ini pun tidak mudah untuk dilaksanakan. Dalam mengimplementasikan SPMI, sekolah akan dihadapkan berbagai tantangan, baik yang berasal dari pola pikir warga sekolah, keterbasan jumlah SDM, maupun yang berkaitan dengan pendanaan, sarana dan prasarana. Ditambah sekolah pun dihadapkan pada berbagai kegiatan yang datang silih berganti, dan tentunya perlu untuk diikuti, dilaksanakan, atau diselesaikan secara cepat.

Berdasarkan kepada hal tersebut, maka peran kepala sekolah sangat diperlukan sebagai pemimpin dan motor perubahan di sekolah. Mental pejuang, pengabdi, dan pekerja keras perlu terus dipupuk dan ditumbuhkan oleh kepala sekolah terhadap TPMPS dan semua warga sekolah. Menurutku, budaya apresiasi baik secara materil maupun immateril dapat menjadi "pupuk" untuk tetap menyuburkan dan mempertahankan konsistensi tersebut. Itu yang harus dilakukan Bude Sri lho, ungkapku.

Kedelapan, pembinaan yang optimal dari TPMPD. Sesuai amanat Permendikbud Nomor 28 tahun 2016, pemerintah daerah provinsi, kabupaten/kota membentuk Tim Penjaminan Penjaminan Mutu Pendidikan Daerah (TPMPD). TPMPD provinsi diatur pada 9 ayat (1) sampai dengan (5), dan TPMPD kabupaten/kota diatur dalam pasal 10 ayat (1) sampai dengan (5). Anggota TPMPD sedikitnya terdiri atas unsur; bidang pada bidang pendidikan, pengawas sekolah, dan dewan pendidikan.

Dalam konteks implementasi SPMI di satuan pendidikan, TPMPD Provinsi memiliki tugas dan wewenang untuk melakukan pembinaan, pembimbingan, pendampingan, dan supervisi terhadap satuan pendidikan dalam pengembangan SPMI-Dikdasmen di satuan pendidikan pada pendidikan menengah dan pendidikan khusus, sedangkan TPMPD kabupaten/kota memiliki tugas dan wewenang melakukan pembinaan, pembimbingan, pendampingan, dan supervisi terhadap satuan pendidikan dalam pengembangan SPMI-Dikdasmen pada pendidikan dasar.

Dukungan TPMPD bukan hanya menghadiri atau membuka acara yang bersifat seremonial yang berkaitan dengan SPMI, tetapi diharapkan lebih kepada hal yang lebih konkrit seperti; menunjuk sekolah-sekolah model yang belum didampingi oleh Lembaga Penjaminan Mutu Pendidikan (LPMP), pembinaan dan pendampingan langsung ke satuan pendidikan, peningkatan kompetensi TPMPS, dan menindaklanjuti hasil pemetaan mutu yang dilakukan oleh TPMPS yang memerlukan "intervensi" langsung dari pemerintah daerah, seperti yang berkaitan dengan standar sarana dan prasarana, standar pendidik dan tenaga kependidikan, standar pengelolaan, dan standar pembiayaan. Hal ini kami sampaikan dalam paparan rekomendasi dalam makalah yang untuk desiminasi sekolah Bude Sri.

Tak terasa, waktupun sudah larut malam, dan Alhamdulillah goresan yang sedikit bekal ilmu, ternyata setelah bercerita panjang lebar dengan Bude Sri, menambah wawasan dan ilmu untukku, yang selama ini hanya sedikit paham tentang SPMI dan tidak kuperdalam ilmunya. Ternyata…. Ilmu itu akan hadir jika kita terjun mengalami langsung dalam dunianya. Walaupun aku tidak ikut terjun, karena dari rekam jejak yang sudah secara gamblang Bude Sri jelaskan, akhirnya bertambah pemahamnku tentang SPMI.

Sudah malam, akhirnya aku pamit pulang.

Dan sore harinya, aku mendapat kabar kembali tentang apa yang sudah dipresentasikan oleh Bude Sri. Bahwa beliau sudah selesai kegiatan desiminasi dan sebagai fasilitator yang ditunjuk oleh LPMP, ternyata ada diberi honorarium. Alahamdulillah…. , ungkapku

Jum’at berkah… aku dan suamiku, ditraktir makan siang. Yummmy…yummy, senangnya hatiku, karena pas kebetulan malas masak., gumamku.

Rezeki hadir tidak disangka, semua karena goresan yang tak seberapa, akhirnya aku bisa menikmati indahnya kebersamaan Terima Kasih Ya Allah, Engkau telah bukakan mata hati dan pemikiran singkat ini, yang semula hambaMu ragu dan takut memalukan, ternyata membawa berkah dan kemudahan bagi Bude Sri.

Semoga hal yang ku lakukan bersama Bude Sri, bisa bermanfaat untuk sekolah lain dan berguna bagi nusa dan bangsa untuk menuju Indonesia Maju.

 

Kenangan cerita  SPMI bersama Bude Sri,   Pulau Besar, Akhir Desember 2020

Oleh : Esti Rahayu

Komentar

Posting Komentar

Postingan populer dari blog ini

Senjata Guru Era New Normal

Menyambut Tahun Ajaran Baru Adaftif Covid-19

Dipundak Guru Ada Wajah Masa Depan Anak Bangsa