SETIA BERDIMENSI SENI PADA GURUKU SAHABATKU


SETIA BERDIMENSI SENI PADA GURUKU SAHABATKU

                                                   Dokumen Pribadi, 2018 Foto Bersama Sahabatku

Ada kata yang selama ini selalu menjadi bahan perbincangan. Bukan hanya dikalangan remaja, dewasa, atau bahkan lanjut usia. Ya dialah “setia”, kata yang menjadi cermin kesabaran, ketulusan, pengorbanan dan perjuangan. Bagi orang yang memiliki ciri-ciri setia, maka tak pernah luput dari luka, atau pahitnya pengorbanan, tulusnya penantian, luasnya kesabaran dan dasyatnya perjuangan. Maka, orang yang memilih setia, biasanya punya kesabaran tingkat tinggi. Baik dengan pasangan, maupun dengan pekerjaan.

Ya…setia!!!

Setialah dengan pasanganmu, setialah dengan profesimu… dan setialah dengan sahabatmu!!

Sebagai seorang guru, kita harus setia berbagi ilmunya, lewat bahasa lisan dan tulisan. Ia pasti setia pada kecintaannya. Salah satunya, ia memilih setia terus berkarya. Memilih untuk setia dalam coretan pena dan setia membaca tiap lembar buku bermakna.

Semoga diriku ini mampu  untuk setia…..

Sebagai makhluk social, tentu saja manusia membutuhkan keberadaan orang lain, hal itu juga merupakan tujuan penciptaan manusia. Oleh karena itu, dalam menghadapi perjalanan hidup, kita akan bertemu dengan yang mampu memberikan dukungan positif bagi kita. Kita mengenalnya dengan sebutan sahabat. Seorang sahabat akan mampu mengerti dan memahami diri kita sepenuhnya. Ia juga menjadi seseorang yang selalu kita ajak untuk berbagi segala perasaan termasuk kesedihan atau kegembiraan sebagaimana pengertian ukhuwah islamiyah insaniyah dan wathaniyah.

Dalam islam sendiri persahabatan merupakan salah satu yang sangat dianjurkan oleh Allah SWT sebagaimana firmanNya “ Sebenarnya orang-orang yang beriman adalah mereka yang bersaudara, maka damaikanlah diantara kedua saudara kamu dan bertaqwalah kepada Allah supaya kamu memperoleh rahmat” ( QS al-Hujarat 49:10)

Persahabatan merupakan sebuah nilai yang harus ditanamkan sejak dini. Karena bagaimanapun orang yang memiliki banyak sahabat dipercaya akan lebih mudah dalam menjalani hidupnya. Ada kiasan yang sering kita dengar “ semakin banyak sahabat semakin banyak rezeki”.

Allah Akbar….

Hal itu, aku rasakan dalam sebuah profesiku yang sudah kujalani selama 21 tahun. Dalam menjalani sebuah profesi guru, aku sudah berpindah kerja sebanyak tiga tempat. Jadi soal karakter sahabatpun beraneka ragam dan semuanya membawa seni masing-masing. Semuanya menimbulkan rasa cinta kasih yang akan semakin memperkuat ikatan kebersamaan. Begitu juga saat ini dalam keluarga baruku yang baru ku jalani kurang lebih empat tahun. Sahabatpun datang dan pergi, dan selalu belajar beradaptasi dengan suasana yang selalu baru dan penuh warna. Bersama sahabatku , setiap hari menjalani profesi yang menjadi pilihanku, sekaligus kebanggaanku , yakni seorang guru.

Kebersamaan yang indah yaitu dimana saat-saat sedang berkumpul dengan orang-orang yang kita sayangi dan kita cintai. Disaat itulah pasti kita merasakan betapa indahnya hidup di dunia.Kebersamaan dengan keluarga, sahabat ataupun orang-orang yang terkasih, disaat kita sedang bersama mereka,  pasti kita akan merasa bahagia dan merasa nyaman. Hal ini yang kurasakan saat ini…….

Dalam mengamati bagaimana seorang guru membimbing anak didiknya, adalah hal yang sangat menarik. Menghibur saat anak bersedih, memeluk saat anak butuh kenyamanan. Belum lagi saat mengajarkan pengenalan konsep dalam sebuah materi, untuk menjadi modal anak agar bisa jadi insan akademis. Yang akhirnya mampu memahami sebuah konsep dengan baik. Itulah seni dalam sebuah profesi.

Sisi yang paling enak berada di dalam lingkaran sebagai guru adalah kebebasannya dari kekangan dan batasan-batasan yang diciptakan.

Ketika kita memilih menjadi guru, seharusnya kita sadar bahwa pilihan kita bukanlah pilihan kedudukan atau pilihan status, melainkan pilihan tanggung jawab. Sebuah pilihan yang menumbuhkan rasa gemar dan membuatnya dapat menikmati setiap lika-liku perjalanan sebagai perjuangan.  Sahabatku adalah guruku. Banyak hal yang kuperoleh darimu.

Ternyata dari perjalanan panjang profesiku sebagai  guru dan beraneka ragam karakter sahabat dan peserta didikku, dapat ditemukan hal-hal penting yang bisa menjadi peganganku,  yakni : (1)Keyakinan kepada Allah SWT, (2)Kekuatan berpikir dan nalar, (3)Kerendahan hati, (4)Keberanian menyatakan yang benar, (5)Kepemilikan daya tahan untuk tidak menyerah pada keadaan, (6)Empati kepada orang-orang yang memerlukan bantuan, (7)Tidak pernah berhenti bersyukur, (8)Selalu menjaga silaturahmi.

Itu adalah pegangan untuk melakukan sesuatu dalam menjalani profesi guru. Guru harus mampu belajar menjadi guru yang berprofesi karena tanggungjawab. Profesi yang terus tumbuh karena panggilan hati sebagai amanah Allah. Guru di sekolah adalah orang tua bagi siswa untuk mencari harapan hidup.

Dalam keseharian bersama sahabatku, kami punya seni tersendiri dalam menjalani sebuah profesi yang kami emban. Aku banyak belajar dari mereka tentang hidup yang indah dan penuh warna berdimensi seni . Mereka banyak pemula, tapi mereka penuh warna…….. Itu yang membuatku bahagia, hidup terasa berseni.

Menurutku, Hidup yang bertanggungjawab, pada dasarnya, berkisar pada dua hal, memaknai dan dimaknai. Sebuah keberhasilan hidup akan tercapai apabila kita pandai memaknai apa saja yang kita terima sebagai bentuk karunia Tuhan Yang Maha Esa. Dan sungguh sebuah karunia yang tiada terhingga apabila kita berkesempatan belajar dari seseorang yang dianggap bermakna bagi komunitas pendidikan sehingga kita dapat mengambil beragam hikmah darinya. Hal itu yang kudapat dalam lingkungan dimana ku menjalani semua ini.

Salah satu kunci terpenting dalam pendidikan dan dalam memajukan bangsa adalah guru. Dan seorang guru yang sebenarnya hadir bukan sekedar untuk mengajar, bukan sekedar untuk mendidik. Guru hadir untuk menginspirasi; guru hadir untuk menggerakkan. Bagiku, menjadi guru adalah sebuah kehormatan. Guru telah memilih jalan terhormat, mereka memilih hadir bersama anak-anak kita,  bersama para pemilik masa depan Indonesia.

Setiap hari, guru hadir untuk merasakan dan menjumpai wajah masa depan Indonesia; dan di ruang-ruang kelas itulah anak-anak bersiap bukan saja untuk menyongsong tetapi juga untuk memenangkan masa depan.

Sahabatku adalah guruku. Guru adalah orang yang melihat sesuatu yang tidak bisa dilihat oleh orang lain, berpikir tentang sesuatu yang tidak dapat dipikirkan oleh orang lain, dan mengetahui hal-hal yang bergejolak dalam suatu komunitas, padahal komunitas itu tidak mengetahui tentang pergolakan yang tengah terjadi pada mereka.

Maksud semua itu adalah guru hendaknya berjiwa baik, menyukai kebaikan dalam hidup, tidak membebani sesamanya, selalu bergerak dan berkembang, giat beraktivitas, serta bercakrawala luas dalam bidang akiyah dan rukiyah. Itu semua, kami lakukan bersama dengan anak didikku sekaligus sahabatku.

Banggalah menjadi guru, karena ,“Ditiap butir keringat guru, ada Kristal cemerlang pahala penyala masa depan bangsa.” , dan “Dipundak guru, ada wajah masa depan kita”.

Sahabatku, semuanya adalah team yang super, semua memiliki jiwa untuk saling nasehat menasehati, isi mengisi tentang hal-hal yang menjadi kekurangan ataupun menjadi permasalahan dalam melakukan pekerjaan. Walaupun mungkin ada beberapa sahabat yang belum mampu untuk memaknai arti persahabatan yang kami jalani.  Namun kami tetap berusaha menciptakan dan menjadi superteam yang smart dan selalu smile dalam bekerja. Semoga kita selalu setia……

Ini adalah suatu nikmat dan karunia yang tak terhingga yang sudah diberikan Allah kepadaku. Aku dipertemukan dan dikumpulkan bersama orang-orang baik, saling memahami dan saling mengerti satu sama lainnya. Sehingga dalam melaksanakan pekerjaan dan menciptakan lingkungan atau iklim bekerja termasuk dalam zona nyaman.

Apalagi menurutku,  pengajaran bukanlah seperti menancapkan suntikan pada suatu bagian tubuh yang telah diukur dan diperkirakan, lalu setelah itu selesai. Tidak juga seperti pengobatan yang teridentifikasi, diperiksa, lalu diperkirakan obat yang tepat. Namun kami menghadapi akal yang sehat dan selalu tumbuh dalam raga sang bocah, sehingga seorang pengajar berkewajiban membentuknya sedemikian rupa. Walaupun telah direncanakan pembentukkannya, namun seorang guru dapat saja gagal dalam menanganinya, karena terkadang anak sangat sulit dipengaruhi.

Kemampuan mempengaruhi anak didik dengan hal-hal positif adalah pembeda antara pengajar yang satu dengan pengajar yang lainnya.Kami sering melakukan diskusi dengan sahabat seperjuangan, sehingga masalah yang kita hadapi tidak begitu pelik.

Selain itu, kita tetap harus ingat bahwa ada diantara anak didik yang mempunyai sifat pendiam, tidak dapat bersosialisasi dengan dunia riil, serta lupa dengan buku-buku, ilmu, sekolah, dan para pengajar. Juga tentang kondisi anak didik yang mencoba kembali ke kondisi nol, atau kondisi masa lalu. Oleh karena itu, seorang guru harus selalu memberi dorongan kepada anak didik, agar mereka selalu aktif namun berakhlak mulia.

Seorang guru mempunyai dua kewajiban khusus untuk membedakan orang yang berprofesi lainnya, seperti bidang seni, perkantoran, maupun kemasyarakatan, yakni;

Pertama, guru menjadi jembatan yang menghubungkan sekolahan dengan kehidupan anak didiknya.

Kedua, guru menjadikan anak didiknya yang masih kecil menjadi orang yang berpikir dewasa.

Terima kasih guru dan sahabatku ……..

Terima kasih para guru dimanapun kalian berada, berkat jasa guru, anak bangsa terbebas dari buta huruf.

Selamat hari guru. Ke-75 wahai pejuang pendidikan.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Senjata Guru Era New Normal

Menyambut Tahun Ajaran Baru Adaftif Covid-19

Dipundak Guru Ada Wajah Masa Depan Anak Bangsa