SANG PENDIAM YANG GEMILANG
SANG PENDIAM YANG GEMILANG
Bagiku
profesi seorang guru adalah profesi pilihan. Sebagai pribadi yang berkembang,
guru sesungguhnya memiliki potensi yang sangat baik untuk mengembangkan
kreativitasnya, untuk memperbaiki
kinerjanya disetiap waktu.
Untuk
menyusuri sebuah jalan, menanam pohon dan mendidik generasi baru, sebagai bekal dalam perjalanan ini, saya butuh
semangat yang terkontrol. Kita hendaknya memiliki tekad yang ulet dan tekad
yang kuat, karena tekad itulah yang mampu menghidupkan sebuah bangsa. Sebagai
seorang guru selalu harus “Kepo “ (Kembangkan
Potensi), berusaha menambah wawasan, dan perhatian serta
tehnik ,mendidik yang baik agar kita mampu menghasilkan siswa-siswi yang
berkarakter dan berprestasi serta memiliki integritas dan dedikasi yang baik.
Dari tahun 2018 sampai dengan 2019, ku jalani profesiku sebagai
guru pembimbing OSN IPS. Membimbing siswa‐siswi yang begitu antusias
membuatku semangat untuk
mencari bahan bimbingan. Hal yang kulakukan adalah membahas soal‐soal
OSN tahun‐tahun yang sudah berjalan,
mempelajari silabus yang telah diterbitkan oleh panitia OSN Pusat, dan yang
paling pokok adalah saling sinerginya dengan peserta didik yang kita bimbing. Prinsip dalam bimbingan
pun,
saya lakukan dengan prinsip 3‐S (Semangat – Serius ‐ Sukses)
serta mencari teknik agar anak didikku tidak bosan karena pada umumnya belajar
IPS itu membosankan, kajian materinya bercerita masa lampau, kondisi
alam, dan penuh dengan
hafalan. Tapi tidak buat anak didikku yang kubimbing ini,
sebanyak lima orang hanya satu orang yang nampak bermalas‐malasan. Setiap pertemuan selalu
kuberi motivasi dan soal‐soal
selalu dibahas bersama‐sama, canda ria pun kadang terlontar dari mulut ke mulut kami. Mereka kubawa
alur jalan yang serius namun menghindari kejenuhan, dan diakhir
pertemuanpun selalu kuberi soal post tes ataupun kuis.
Setiap mau bimbingan, aku berusaha untuk selalu membaca silabus
yang ada dalam OSN, dan membuat soal-soal prediksinya, kemudian saya berikan
setiap kali bimbingan. Dalam bimbingan
soal selalu bervariatif dan pada pertemuan kala itu…
“Kubagi soal dan langsung kerjakan
ya….,” kataku. “Ya,…. soal ya bu…..,”
tanya salah satu siswaku yang malas. “Iya,”
jawabku.
Akhirnya kujelaskan bahwa di
akhir target pertemuan
semua nilai pos tes
akan dikalkulasikan dan yang memiliki
jumlah nilai tertinggi
dialah yang akan diutus buat mewakili ke tingkat Kabupaten.
Diantara yang aku bimbing, ada yang bersorak horeeee……. Kata si
Adi.
Beberapa peserta didik terdiam.
Ternyata diantara lima orang yang kubimbing , ada satu siswa yang selalu
diam seribu bahasa, serta memiliki karakter yang penuh kesederhanaan , ternyata menyimpan emas, mampu bersaing dengan teman‐teman di dalam tim OSN IPS. Sebut saja “Yayak”’
demikian teman‐teman dia memanggilnya. Anaknya sangat pendiam,
tetapi kalau belajar selalu kritis dan enak buat teman berdebat materi
kajiannya. Hal ini menjadi tertantang
buat saya, agar lebih mampu dalam mengali dan Kepo ( KEmbangkan POtensi)
untuk anak yang pendiam dan berbakat.
Di akhir pertemuan
selama tiga bulan bimbingan di sekolah, aku merekap hasil ujian/test para peserta bimbingan. Ternyata, nilai tertinggi dari ke lima siswaku, diraih
oleh “Yayak”.
Peserta didik yang lain pun menerima
hasil dengan senang, karena selama
ini memang persaingan begitu ketat. Dan
tehnis penilaianpun terbuka dan transparan.
Akhirnya, Si Pendiam Yayak kita daftarkan untuk mewakili ke tingkat Kabupaten. Di Kabupaten bersaing dengan 38 sekolah, baik sekolah Negeri maupun Swasta.
Gaya yang selalu
low profile, membuatku agak ragu, jika bersaing ke tingkat Kabupaten. Sehingga, aku sering
menginggatkan agar jangan terlalu diam dan kuper, kataku. Sebelum berangkat kuingatkan kepadanya, agar
pandai-pandai cari teman, gali ilmunya dan belajar bersama semoga bisa menambah
wawasan bersama dengan sekolah-sekolah lain. Dan jangan minder jadi wong deso. “Walaupun
asal dari desa, tapi kita harus berusaha prestasi kota” kataku dengan semangat.
Akhirnya…pertempuran di Kabupatenpun berproses. Dan Alhamdulillah
tahun 2018 anak bimbinganku ‘ Yayak ‘ mendapat peringkat ke-3 dan ikut mewakili
ke tingkat Provinsi. Tapi sayang perjuangan ke Provinsi belum membuahkan hasil dan hanya sebagai
partisipasi saja.
Dan Tahun 2019 , kembali seleksi tingkat sekolah dimenangkan oleh
“Yayak”. Ternyata Yayak belum tertandingi oleh peserta didik yang lain.
Dengan penuh kesabaran
aku mendampingi kembali proses belajar ekstra buat
persiapan lombanya. Tibalah waktu buat lomba di Kabupaten.
Ternyata doa dan usaha kembali kami lakukan pada Tahun 2019,
lagi-lagi sang pendiam yang menyimpan berlian mampu bersaing kembali di tingkat
Kabupaten, dan bahkan nilai dan peringkat bisa kami tingkatkan. Berdasarkan
hasil pengumuman lombanya, “Yayak” mendapat urutan ke-1. Hal ini menjadi
kebanggaanku sendiri, dimana tugas yang ku emban membimbing anak desa dan dalam
2 tahun berturut-turut ternyata, aku masih bisa berkarya. Akhirnya rasa semangat umtuk mendampingi sang
pendiam Yayakpun semakin menyala.
Alhamdulillah, karena siswa yang ku bimbing peringkat pertama maka
saya diutus Dinas Pendidikan dan Kebudayaan di Kabupaten kami, untuk
mendampingi ke tingkat Provinsi. Saat perjalanan ke Provinsi dan kembali akan
berjuang sang Pendiam kami, tak bosan-bosannya, aku selalu memberi motivasi
agar selalu mempersiapkan diri untuk senjata perangnya yang mana akan melawan
para jawara dari 7 Kabupaten yang ada di Provinsi kami Bangka Belitung.
Dengan berbagai macam keterbatasan, alat peraga, media seperti
atlas ataupun peta, karena sekolah baru, hal itu kami tidak memiliki. Namun
karena ada sekolah tetangga, akupun memberanikan diri untuk pinjam demi sang
pendiam biar bisa belajar. Begitu juga sarana HP android untuk mempermudah
belajar melalui sarana internet. Hal itu tidak dimiliki oleh bimbinganku. Namun
aku berusaha untuk mendownloud dan print, kemudian berikan kepada bimbinganku.
Usaha dan doa sudah kami lewati, namun diakhir hasil pengumuman
kami belum mampu untuk mewakili ketingkat Nasional. Walaupun belum mampu
kenasional, Ibu tetap bangga menjadi pendamping buat si Pendiam yang berlian (Yayak), yang mampu mengharumkan nama sekolah
kami yang baru berusia 5 tahun ini. Kehidupan didesa, tetapi tidak kalah dengan
anak-anak yang berada di kabupaten kami.
Harapanku, Semoga ditingkat yang lebih tinggi nanti (SMA) , tetaplah sang pendiam menyimpan emas dan mampu mengukir bakat yang ada dalam dirinya. Kamu memiliki berlian yang perlu kamu bungkus dengan semangat sehingga akan bersinar di masa depanmu.
Jangan
pernah berhenti untuk belajar…..,berkarya, sehingga mampu Berjaya dalam meraih
prestasi !!!.
Semoga
ditahun yang akan datang, aku masih bisa mengali bakat anak yang terpendam,
bersama-sama mengukir prestasi gemilang. Aamiin YRA.
Penulis,
Esti Rahayu (Guru SMPN 2 Pulau Besar)
20 Agustus 2020

Komentar
Posting Komentar