COACH PEMUDI MILLINEAL

COACH PEMUDI MILLINEAL

     Dok.Pribadi (Dari Kiri: Bu Widya, Cinta, Kikim, Bu Rani)


Hari yang masih berselimut duka, dengan pandemic Covid-19 yang tidak berujung usai. Pagi ini, matahari menyapaku dengan sinarnya. Kulitku terasa hangat seolah-olah cahaya memelukku. Menyelamatkanku dari dinginnya pagi. Kulangkahkan kaki dengan pasti menuju ketempat kerjaku.

Duhai guru……Apakah gerangan yang kau cari???

Apakah hanya sekedar materi? Ataukah hanya menyalurkan hobi?

Yang jelas menjadi profesi guru itu adalah pilihan.  Merugilah guru jika hanya bekerja sekedar saja. Hidup hanya sekali. Andai boleh memberi perumpamaan, kitalah pengemis surga sesungguhnya. Karena setiap kali bertugas, meluruskan niat, Lillahi Ta’ala. Astaghfirrullah……

Ampunilah kami Ya Allah, jika hari kemarin, kami belum berlomba menggapai syurga-Mu lewat pengabdian ini.

Bahagianya guru, sebab setiap saat dalam kebajikan.

Hal inilah yang mendasari aku untuk menjadi orang yang beruntung dunia akhirat sebagai keinginanku, Berguna bagi masyarakat adalah harapanku, dan selalu beribadah adalah tujuan hidupku.

Namun, sebagai manusia biasa,  tetap memiliki sisi negatif. Misalnya, dari segi pasang surut kedisiplinan diri, emosional, kadang sangat berapi-api dan ingin mencoba sesuatu hal yang baru tanpa takut akan risiko, sehingga perlu dukungan dan arahan yang benar dari orang tua dan lingkungan sekitarnya, hal ini sulit aku dapatkan, bahkan dirikulah yang dijadikan oleh mereka sosok orang tua yang selalu diharap tuk membimbingnya.

Semua akan aku coba, Bismillah saja semoga Allah selalu memberi kemudahan dalam meniti pekerjaanku sebagai seorang guru.

Terbersit di benak ini tentang pemuda milenial saat ini., ingin rasanya tuk membangkitkan semangatnya. Seolah-olah dengan munculnya perkembangan tehnologi dan hadirnya star up akan membuat peran generasi muda menjadi “mudah” dalam membangun bangsa. Padahal inti dalam Sumpah Pemuda 1928 adalah menjadikan pemuda sebagai salah satu perubahan bangsa ke depan.

Hal ini ku implementasikan di sekolah tempat kami bekerja.

Aku ingin melihat para junior yang sedang berlatih untuk persiapan lomba FLS2N Tingkat Provinsi di Masa Pandemi Covid-19. Apakah mereka berseni dan memiliki semangat Sumpah Pemuda yang selalu berdedikasi demi bumi Persada Indonesia?

Saya tidak  tau, Namun…. Setelah aku sampai di lokasi latihan, ternyata ada sosok Coach yang gigih dengan perjuangan penuh semangat Sumpah Pemuda ada di dadanya. Begitu juga dengan siswa yang dibimbingnya, semangat berkobar membara untuk berjuang meraih mimpi. Bagi keduanya, masa pandemic bukanlah halangan untuk berkreasi dan beraksi dalam menunjukkan kemampuan yang dimilikinya.

Jadi sebut saja sang Coach dengan sebutan Bu Rani, dan siswa yang di bimbingnya adalah Kikim.

Bu Rani adalah salah satu pengajar di sekolah kami, yang membidangi seni dan memiliki sahabat sesama peseni, sebut saja dengan Bu Widya. Kawan yang selalu mendukung dan saling isi mengisi, itulah teman sejati. Bahagia rasanya melihat mereka yang bersahabat dengan tulus dan ikhlas. Aku salut dengan kegigihan sang Coach yang bekerja tanpa pamrih, demi kesuksesan anak didiknya.

Begitu juga Kikim, dia adalah siswa kami yang memiliki suara merdu jika bernyanyi lagu-lagu melayu. Namun, lagu yang bergennre lainpun tak kalah merdunya. Kikim juga, memiliki teman yang solmed sebut saja si Cinta. Persahabatan yang positif, saling menguatkan satu dengan yang lainnya.

Bangga punya mereka……, gumamku.

Akhirnya, akupun menyaksikan kegiatan mereka berlatih hingga rekaman untuk berkompetisi ditingkat Provinsi.

Bu Rani, menyapaku dengan sebutan Bunda.

Gimana menurut bunda, sudah baguskah penampilan dan suara Kikim, kata Bu Rani.

Yah…lumayan, hanya perlu di kobarkan lagi semangat untuk menunjukkan ekspresi dan penghayatan lagunya, ungkapku. Karena Kikim harus menyanyikan tiga lagu sekaligus, dan memiliki tingkat kesukaran yang tinggi.

Ada beberapa hal modal dalam bernyanyi lebih dari satu suara, yaitu

1.      Kita harus pandai memadukan suara agar harmonis.

2.      Memiliki ekspresi dan penjiwaan dari lagu yang kita nyanyikan

3.      Tekhnik dalam memainkan lagu harus benar-benar dikuasai,

4.      Pelatih dan penyanyi harus saling bersinergi dengan baik.

Jelasku kepada mereka.

Kikimpun ikut menjawab, “ Iya Bu …saya juga akan selalu berusaha sebaik mungkin untuk memperbaikinya, semoga bisa membawa nama baik sekolah, Bu...”

Siap bun…… Aamiin…., Imbuh!, Bu Rani

Aamiin Ya Allah……., jawabku dengan senang hati.

Hal yang patut dibanggakan, dimasa suasana yang sangat pelik, ternyata kami masih memiliki pemudi yang nilai juang dan semangat mengisi kemerdekaan ini dengan sebuah prestasi yang luar biasa, menurut saya.

Mengapa luar biasa? , Karena kita tau persis kondisi sekolah kami itu bagaimana. sekolah kecil, baru…dan terbatas dari sarana prasarananya. Untuk membuat musiknya, tekhnik rekamannya, kami perlu modal. Itu hal pokok yang ngak bisa ditiadakan. Namun sang Coach kami tetap gigih dan tidak menyerah.

Alhamdulillah didukung dengan team work yang solid, dan Kepala Sekolah juga selalu berusaha untuk mendukung kegiatan ini, maka semua ini bisa kita siasati dengan baik. Disaat rekaman, ada sedikit ke khawatiran, melihat Kikim yang kelihatan letih dan semangat mulai memudar.

Ternyata, sang Coach (Bu Rani), juga punya strategi dalam pendampingan latihan tersebut. Ada dibawa untuk keluar ruangan, menikmati indahnya alam sekaligus mencari inspirasi. Ada juga di ajak bermain tik tok untuk menumbuhkan semangat si Kikim,  agar kembali hadir dan bisa bernyanyi dengan baik. Itu adalah senjata buat memotivasi dan patut di beri jempol.

Alhamdulillah semangat si Kikim bisa terbangkitkan kembali, akupun turut bahagia melihatnya. Ayo …semangat bangkitkan dalam dada kalian….pasti bisa, kataku.

Dalam karya mereka berdua, aku diminta untuk selalu mendampingi dan memberi support, karena menganggap aku adalah orang tua yang telah banyak makan asam garam kehidupan….., itu kata mereka.

Padahal, ,aku hanyalah sosok yang ingin selalu belajar, walaupun usia sudah tidak muda lagi, keinginanku adalah hidup itu tanpa belajar,  pasti kita akan tertindas oleh ketertinggalan. Jadi harus semangat belajar…berkarya. Ingat, guru mulya karna karya…., gumamku menyemangati diri.

Akhirnya, kegiatan rekaman berakhir dengan baik, dibantu dengan fotografer kita, Kak Aidil. Dan hasilnyapun, diberikan kepadaku.

Selanjutnya, sesuai tekhnisnya, karya tadi ku kirimkan lewat link google drive, sesuai aturan perlombaan tahun ini.

Doa kita,  semoga ada keberuntungan di pihak kami Ya Allah…Aamiin

Tapi yang terpenting disini adalah lahirnya pemudi yang memiliki semangat juang untuk berkompetisi. Sebuah perlombaan memang harus ada yang menang dan yang kalah.  Soal juara atau tidak juara itu bukan menjadi hal paling penting.

Yang terpenting, kami sudah menghadirkan pemudi yang gigih dalam berkarya dan punya jiwa perjuangan yang sesuai harapan cita-cita mulia bangsa kita, dia adalah sang Coach Milineal  kita , “Bu Rani”. Semoga menjadi guru qolbu dan dicintai oleh anak didiknya, ya bu…., doaku untukmu. I Love U

 

Selamat Hari sumpah Pemuda Ke- 92, Tetap semangat berkarya wahai para pemuda dan pemudi Milineal!!!.

Semoga Allah selalu bersama kita. Aamiin ya Robbal Alamin.

 

#Salam Sehat

#Salam Berkarya

Goresan bersama pemudi millineal SMP Negeri 2 Pulau Besar.

 15 September 2020

Penulis, Esti Rahayu (Guru SMP Negeri 2 Pulau Besar)

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Senjata Guru Era New Normal

Menyambut Tahun Ajaran Baru Adaftif Covid-19

Dipundak Guru Ada Wajah Masa Depan Anak Bangsa