Wahana Penerbitan Buku Bersama Narsum Edi Mulyana


Materi belajar menulis malam ini Narasumber bapak Edi dari Andi Offset, sebuah perusahaan yang bergerak di bidang percetakan dan penerbitan buku. Saya sangat antusias, karena ini adalah hal langka buat berbagi tentang dunia penerbitan buku. Malam ini adalah malam ke-9 buat saya bergabung dengan orang-orang hebat menulis.
Pada kesempatan kali ini pak Edi menyampaikan dengan balak-blakan semua yang berkaitan dengan dunia penerbitan dari awal hingga akhir sebuah karya bisa diterbitkan. Seperti yang terjadi pada banyak perusahaan, dunia penerbitan juga  menghadapi sesuatu permasalahan akibat dari pandemi yang belum ada kepastian kapan berakhirnya. Tidak bisa kita pungkiri, pandemi saat ini betul-betul meluluh lantakkan semua bisnis, walaupun tidak semuanya terdampak, akan tetapi dunia penerbitan menjadi salah satu terdampak yang cukup signifikan.
Dunia penerbitan adalah dunia bisnis semata, yang tentunya diikuti dengan idealisme di dalamnya, dengan tujuan utamanya mencari keuntungan dari penjualan buku. Outlet utama bisnis penerbitan buku adalah toko buku, yang menjadi soko guru dari bisnis ini, sehingga ketergantungan ini sudah menjadi suatu ekosistem yang khas.
Pada bulan Januari 2020 hingga Februari 2020 omzet toko buku masih sangat normal, dan tidak ada tanda-tanda terjadinya “malapetaka”. Pengumuman adanya WNI terpapar virus corona di awal Maret lalu merupakan embrio dari badai besar yang menghantam dunia bisnis. Terlebih setelah berlakunya PSBB di beberapa daerah, dengan otomatis toko buku andalan penerbit yaitu Gramedia, memarkirkan bisnisnya di sisi pit stop, artinya terhenti sama sekali. Dari omzet normal dan terhenti di pit stop menjadikan omzet anjlok hingga 80-90% penurunannya. Hal ini berdampak secara langsung ke produksi buku, hingga ke sisi penulis buku yang telah memasukkan naskah ke penerbit.Akibat dari pandemi ini banyak rencana dibatalkan ataupun ditinjau ulang, banyak kegiatan mendadak terhenti. Laju bisnis yang tadinya melaju cepat di gigi 5, mendadak harus mengerem dan mengganti gigi persneling paling rendah yaitu 1. bahkan terkadang harus memarkirkan bisnisnya sementara waktu, sambil melihat keadaan.
Di permulaan era new normal ini secercah harapan muncul, setelah beberapa daerah telah memetakan pandemi dengan baik, dan mencoba berani untuk bergerak. Di bulan Juni-Juli, Gramedia sebagai outlet toko buku telah mulai membuka gerainya hingga mencapi angka di 80% di seluruh Indonesia, berakibat bergeraknya kembali semangat penerbit-penerbit untuk kembali menghidupkan mesin-mesin pencetak tanpa perlu menunggu terlebih dahulu keadaan menjadi lebih pasti.
Belajar dari pengalaman pak Edi dan kawan-kawan, identifikasi tema buku menjadi sangat penting saat keadaan chaos seperti ini. Tema-tema yang up to date mengenai virus corona, telah ditebar ke penulis-penulis sebelumnya, sehingga bahan-bahan buku yang berkaitan dengan virus dengan cepat didapatkan. Dalam keadaan seperti ini kesiapan penulis dalam menuliskan materi dalam sebuah buku menjadikan tantangan tersendiri, mengingat bahan-bahan sumber rujukan masih sulit ditemukan.
Dari berbagai pengalaman penulis senior, komunitas senasib sepenanggungan adalah wahana yang baik dalam mengelola tulisan. Pejuang literasi yang puritan seperti Om Jay ini dapat memberikan angin segar untuk tumbuhnya penulis-penulis baru yang tangguh dan tidak cengeng dengan penolakan penerbit, akan tetapi tetap berkarya hingga menghasilkan tulisan yang khas. Punya karakter sendiri dan tentunya ditunggu kehadirannya oleh pembaca dan penerbit.
Adapun hal-hal yang perlu dilakukan penulis pemula adalah :
1.    Memulai tulisan dengan tema yang disukai dan betul-betul dikuasai. Tulis dengan terstruktur, dan muat di blog pribadi dan sebarkan di lingkungan teman.
2.    Jika sudah Percaya Diri, buatlah proposal ke penerbit yang isinya garis besar tulisan yang dapat ditawarkan ke penerbit. Penerbit akan melihat Tema, Judul Utama, Outline tulisan, pesaing buku dengan tema yang sama, positioning buku (harga, usia pembaca, gender, pendidikan, dll).
3.    Jangan lupa berikan alasan mengapa buku tersebut ditulis. Boleh sedikit "Ngecap" supaya penerbit tertarik dengan tulisan kita. Penerbit biasanya agak sedikit kurang berani dengan penulis-penulis perintis dengan tema yang berlum terekam di datanya. Sehingga proposal ini sangat perlu diberi perhatian, untuk menyadarkan penerbit akan tema yang kita angkat dalam tulisan ibu.
4.   Tulislah rencana penulisan dengan target market yang dituju, syukur-syukur ditawarkan rancangan pemasarannya. Pemasaran era new normal sangat berbeda dengan era normal sebelumnya.
 Proposal isinya adalah: Judul Buku, Outline Rencana Buku dalam bantuk bab dan sub bab, Sinopsis Buku, CV Penulis. Sertakan pula sampel bab yang sudah ditulis minimal 1 bab, sehingga memudahkan bagian editorial memperkirakan kemampuan editing mandiri penulisnya.
Saran Narasumber Bapak Edi, tetaplah mendokumentasikan pencarian keilmuan kita. Dengan dokumentasi yang terstruktur, pembaca akan dapat mewarisi ilmu kita dan bahkan mengembangkannya di kemudian hari. Ilmu kita akan menjadi Immortal tidak lekang oleh keadaan jaman, dan selalu dikenang menjadikan legacy ke anak cucu kita. Dokumentasi dalam bentuk buku akan beliau kirimkan ke Perpustakaan Nasional bagian deposit, yang dilindungi oleh undang-undang. Anak cucu kita di masa yang akan datang, akan dapat menelusuri jejak langkan dokumentasi kita dalam bentuk tulisan dan menuju keabadian.
Menulis itu perlu latihan, latihan yang tak pernah mengenal lelah. Berlandaskan kemauan keras didalamnya. Teruslah menulis secara konsisten dan lakukan menulis secara berulang-ulang hingga kita mahir dalam membuat sebuah karya tulisan yang paten.
Untuk menjadi sukses dibutuhkan 1% bakat dan 99% kerja keras. Intinya kesuksesan adalah milik orang yang mau dan mampu.Agar sukses dimasa depan, modal kita adalah kerja keras.
Menurut pengalaman pak Edi, buku yang tidak lekang oleh jaman adalah buku pelajaran, buku anak, buku teks, buku motivasi dan agama, serta buku fiksi. 
Penulis yang baik adalah penulis yang mampu menghadapi tantangan didepannya yang akan selalu siap menerima kesempatan yang diberikan kepada mereka, penulis yang selalu berlatih menuangkan tulisan benar-benar dari hati sehingga sampai kehati pembaca dengan struktur bahasa yang baik, tanpa distorsi makna yang sampai kepada pembacanya.
Saran dari Om Jay dan narasumber bahwa “Dunia tulis menulis tidak akan mati, terus berkarya bagaimanapun keadaannya, karena di luar sana masih banyak pembaca yang menginginkan relung keinginan tahuannya dari tulisan kita”. Semoga kita bisa mengikuti para jejak sang motivator beken kita.


#semangatberkarya
#salamliterasi

Bangka Belitung, 7 juli 2020
Esti Rahayu (Guru SMP Negeri 2 Pulau Besar)
Resume ke-9

Komentar

  1. Mantap Bu Esti resumenya, mampir juga di https://praptiprayitno.blogspot.com/2020/07/serba-serbi-menerbitkan-buku-di.html
    🙏

    BalasHapus
  2. "Menulis dari hati akan sampai ke hati",

    Setuju itu buk Esti. Salam literasi

    BalasHapus
  3. Ok resumenya lanjutkan..hehe
    Bismillah
    Kamis, 09 Juli 2020, Postingan ke-419. Mohon doanya satu hari satu postingan di blog 
    www.sarastiana.com
    Google Adsense di Bawah 1 Dollar?
    http.sarastiana googleAdsense.com

    Metode Pembelajaran Sosiodrama
    www.sosiodrama.com

    Model dan Metode Pembelajaran http://www.modelpembelajaran

    BalasHapus
  4. Selamat pagi Bu Esti, keren resumenya..salam literasi

    BalasHapus

Posting Komentar

Postingan populer dari blog ini

Senjata Guru Era New Normal

Menyambut Tahun Ajaran Baru Adaftif Covid-19

Dipundak Guru Ada Wajah Masa Depan Anak Bangsa