Sekolah, Ladang Ibadah dan sumber keberkahan
Dra Betti Risnalenni
M.M., Kepala sekolah TK Insan Kamil,
pemilik lembaga KB-TK dan SD, semalam menceritakan pengalamannya dalam
mendirikan sekolah.
Menurutnya menjadi seorang guru adalah cita-citanya. Beliau menginginkan agar
semua anak memperoleh hak yang sama dalam mendapatkan pendidikan yang baik.
Inspirasinya timbul sewaktu beliau mengajar di Al Izhar Pondok Labu tahun 1992,
saat beliau sempat mengajar Mas Mentri kita yang sekarang di kelas 4 SD.
Pada awalnya beliau mendirikan sekolah sempat ragu karena memang tidak memiliki
modal yang cukup, hanya berbekal modal nekat dan dukungan seorang teman.
Modal awalnya dimulai dengan kerjasama (
frienchise ) dan mengeluarkan dana sepuluh juta tahun 1996 untuk sebuah
lembaga. Pada saat itu, tahun 1996, uang sepuluh juta terasa mahal baginya.
Dengan kegigihannya, pada tahun 1998 beliau membuat buku sendiri dan membuka cabang tidak membayar, hanya ikatan
kerjasama dengan membeli buku beliau saja. Waktu itu beliau menjual bukunya
dengan harga yang terjangkau, hanya Rp 10.000 per buku karena memang tipis,
berupa buku LK. Namun, satu pusat kursus bisa membeli banyak buku. Apalagi
waktu itu beliau bekerjasama dengan sekolah. Jadi banyak buku yang terjual.
Mulai Maret 2003 beliau mendirikan TPQ. Waktu mulai berdiri sudah ada murid
berjumlah 28 anak. Setelah Juli beliau mulai dengan TK dan memiliki 33 murid.
Karena TK masih mengontrak, jadi si empunya rumah masih punya kekuasaan.
Halamannya dilubangi dan dibuat kolam, tetapi sampai kontrakan berakhir tidak
pernah berisi air dan ikan, hanya lobang saja.
Baru berjalan bulan ketiga TK, tepatnya bulan September 2003, teman beliau
mundur karena mengaku rugi, tidak ada untungnya. Akan tetapi, karena masih
dalam naungan yayasannya tidak mungkin menutup sekolah seenaknya. Maka, beliau
meneruskannya, sedangkan urusan kedinasan dilakukan bersamaan dengan program
KBM berjalan, karena terkait harus ada data murid dan sebagainya. Jika tidak
ada kelengkapan datanya sekolah akan dianggap fiktif.
Untuk urusan tersebut beliau memerlukan izin RT, RW, dan tanda tangan warga
yang tidak keberatan sekolah didirikan di antara mereka. Tanda tangan warga
waktu itu 50 tanda tangan, kalau sekarang memerlukan 100 tanda tangan.
Beliau juga didukung oleh developer, mungkin karena agar rumahnya juga laku.
Sekolah beliau masuk kalender perumahan tersebut.
Beliau membuat sekolah itu dengan tulus, tidak memikirkan untung rugi walau
cukup membuat sekolah ini berlangsung.
Untuk surat izin mendirikan SD, beliau ke UPP dulu, UPTD jaman dulu namanya
atau kantor dinas pendidikan yang ada di kecamatan. Nanti di situ ada catatan
yang harus kita urus. Jadi, kita siapkan jadi berbentuk sebuah proposal.
Di situ harus ada Akta Yayasan, di dalam akta yayasan itu minimal ada 5
pengurus, boleh orang lain atau juga boleh keluarga sendiri.
Karena SD dimulainya dari kelas 1, maka beliau tidak menerima kelas
pindahan yang di atasnya, sedangkan untuk penggajian juga tidak cukup dari SPP
yang diterima.
Sekarang uang masuk sekolahnya hanya Rp 2.300.000 sudah berikut seragam dan
tidak ada uang pendaftaran ulang.
Untuk mengukuhkan jati diri, beliau juga mengikuti lomba kepala sekolah.
Berbekal pengalaman sebelumnya, beliau mempersiapkan dan mengawalnya sehingga
berhasil meraih juara 1 Kepala Sekolah
Berpretasi tahun 2009.
Sedari awal, niat beliau mendirikan sekolah bukan untuk mencari uang, melainkan
untuk mencari keberkahanya saja, sekolah tetap berjalan lancar, dan anak-anak
beliau juga bisa bersekolah dengan baik. Temannya mengatakan bahwa mendirikan
lembaga pendidikan itu ladang ibadah dan diniatkan lillaahi taala.
Beliau menutup diskusi malam itu dengan pesan yang indah,
"Kalau untuk kebaikkan gak usah
ragu-ragu, Allah akan memudahkan segalanya. Jangan takut mencoba apa yang menjadi
cita-cita kita."
Bangka
Belitung, 1 Juli 2020
Esti Rahayu
(Guru SMP 2 Pulau Besar)
Resume ke-6

Inspiratif Bunda, sosok guru yang patut kita teladani
BalasHapuslengkap ya bu
BalasHapusSiipp ibu ..mantap..
BalasHapus